REDAKSI — Laporan mendalam mengenai perkembangan Rahasia Besar mengacu pada konfirmasi data resmi redaksi terkait.
Selain itu, jakarta, CNBC Indonesia – Sejumlah data milik FBI berhasil diretas dan dicuri oleh kelompok hacker ShinyHunters. Sementara itu, dari data-data tersebut, terungkap sejumlah rahasia besar badan intelijen Amerika Serikat (AS).
Namun demikian, data yang berisi 5.000 baris itu tersebut hanya mewakili sebagian kecil dari keseluruhan data yang berhasil dicuri. Oleh karena itu, jumlah totalnya diklaim oleh para peretas mencapai dua terabyte, mengutip dari Reuters, Kamis (24/9/2026).
Di sisi lain, beberapa informasi yang termuat di dalamnya mencakup nama, alamat, nomor telepon. Dengan demikian, tanggal lahir, nomor jaminan sosial, hingga detail kontak darurat ribuan karyawan FBI.
Selain itu, terdapat pula informasi mendetail mengenai penugasan ke kantor lapangan tertentu. Terlebih lagi, termasuk unit yang terlibat dalam pekerjaan intelijen, keamanan, atau kontraintelijen berisiko tinggi.
Pada saat yang sama, ShinyHunters mengklaim data yang didapatkan tidak hanya mencakup karyawan yang masih aktif. Namun, juga mereka yang sudah tidak lagi bekerja di FBI. Kendati demikian, data tersebut akan terus menjalani penahanan hingga FBI mencabut pernyataan yang terbilang merugikan kelompok mereka pada Mei lalu.
Kronologi Terkait: Rahasia Besar
FBI akhirnya buka suara terkait dugaan peretasan oleh ShinyHunters. Selanjutnya, menurut lembaga tersebut, mereka telah mengetahui adanya klaim pembobolan portal FBIJobs.gov serta kebocoran informasi pribadi karyawan ke publik.
Kendati demikian, FBI belum mengetahui pasti penyebab pelanggaran keamanan tersebut dan penyelidikan masih terus berjalan.
Di samping itu, “secara aktif dan agresif menyelidiki masalah ini,” ucap pihak FBI.
Sementara itu, mantan agen kontraintelijen FBI, Eric O’Neill. Terkait hal tersebut, mengatakan bahwa data yang dicuri tersebut akan menjadi “tambang emas” bagi badan intelijen asing. Dalam hal ini, ia merujuk pada China yang terbilang bakal sangat tertarik dengan informasi tersebut.
Begitu pula dengan berbagai badan intelijen asing lainnya yang bermusuhan. Hingga kelompok ekstremis di AS yang tidak puas, tersebut-sebut sangat ingin mendapatkan data tersebut.
“Jika saya ada dalam daftar, saya akan sangat khawatir,” ujar O’Neill.
Kontra-Terorisme, Intelijen, dan Pengawasan: Rahasia Besar
Kendati demikian, dalam beberapa kasus. Data tersebut justru membongkar unit atau inisiatif rahasia FBI yang keberadaannya belum pernah diungkapkan ke publik sebelumnya.
Data itu mencatat 14 staf yang berfokus pada penanganan isu China, termasuk anggota “Unit Perusahaan Kriminal China”. “Unit Analisis Transfer Teknologi China”, hingga “Seksi Intelijen China”.
Selain itu, sembilan orang tercatat menduduki posisi terkait Rusia. Termasuk dua personel di “Seksi Operasi Rusia” dan satu orang yang menangani “Ancaman Infrastruktur Kritis dan Teknologi Rusia”. Tiga orang lainnya bertugas di bidang intelijen yang berfokus pada Iran serta Hizbullah.
Kebocoran ini juga menyeret 11 staf yang bekerja di sektor HUMINT (human intelligence atau intelijen manusia). Termasuk beberapa nama di “Seksi Manajemen Program Humint”.
Tak hanya itu, sebanyak 18 orang tercatat memegang peran krusial dalam teknologi penyadapan data dan telekomunikasi. Unit “operasi teknis klandestin”, seksi “akses rahasia”, hingga pengawasan berbasis video, audio. Selain itu, elektronik.
Trevor Hilligoss, mantan penyidik Angkatan Darat AS yang pernah bermitra dengan FBI. Menilai informasi yang mengaitkan langsung nama individu dengan pekerjaan intelijen manusia merupakan ancaman yang sangat mengkhawatirkan.
“Kita tidak perlu mencari jauh-jauh untuk menemukan contoh agen menyamar yang celaka ketika identitas rahasia mereka terbongkar,” ujar Hilligoss.
Fakta Lapangan & Penyelidikan Kasus: Rahasia Besar
Hilligoss, yang kini menjabat sebagai Chief Intelligence Officer di perusahaan keamanan siber SpyCloud. Menambahkan bahwa kekhawatirannya semakin berlipat ganda karena data yang bocor turut memuat kontak darurat-seperti pasangan atau anak-anak para agen.
“Mereka [kontak darurat] mungkin memiliki pengetahuan keamanan operasional yang jauh lebih minim komparasi terhadap kerabat mereka yang bekerja di bidang sensitif,” imbuhnya.
Hingga kini, Reuters belum dapat memverifikasi keaslian atau pemutakhiran seluruh data penugasan tersebut. Namun, rincian karier dan jabatan dari delapan orang yang datanya bocor terbukti cocok dengan dokumen pengadilan. Pemberitaan media, profil publik LinkedIn, hingga rekam jejak digital di platform seperti Instagram.
Konteks & Implikasi Bagi Publik: Rahasia Besar
Perkembangan ini mencerminkan dinamika tata kelola dan keberlanjutan institusional, serta memberikan dampak signifikan bagi arah kebijakan strategis ke depan.
Sumber Referensi Primer: CNBC Indonesia – Tech & Startup